Friday, 14 November 2014

Apakah Wasir Harus Dioperasi?

Apakah Wasir Harus Dioperasi?

Pertanyaan:

Dok, saya ibu berusia 39 tahun punya wasir sudah lama tidak ada keluhan cuma kalau habis keluar nanti saya masukkan kembali bisa. Apakah wasir harus dioperasi dan kalau dibiarkan saja efeknya apa dok? Terimakasih.

Jawab:

Wasir bahasa kedokterannya hemoroid, tapi orang sering menyebutnya ambeien. Meskipun tidak begitu berbahaya tapi sangat menyiksa si penderita. Penyakit ini bisa disebabkan karena faktor genetikal. Pengobatannya harus melalui petunjuk dokter dengan cara terapi atau operasi.

Meskipun penderita sudah sembuh tapi ada kemungkinan penyakit ini kambuh lagi jika tidak bisa menjaga pola makan dan olahraga secara teratur. Saran saya jika masih terjadi keluhan sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter ahlinya.

dr Soegiarto, Sp PD (RS Islam Roemani Semarang)

Thursday, 13 November 2014

Tips Aman Memilih Obat

Tips Aman Memilih Obat

Sebagian masyarakat berusaha mengatasi masalah kesehatannya dengan membeli obat yang dijual bebas di warung, toko, maupun apotek. Celakanya obat yang dipilih biasanya hanya berdasarkan perkiraan maupun pengalaman sebagian orang yang dianggap paling manjur.

Kepala BPPOM Semarang, Dra. Zulaimah, M.Si, Apt, menuturkan beberapa tips aman memilih obat yang akan dikonsumsi:

1. Harus Selektif

Kebanyakan kita beranggapan  bahwa obat bebas yang beredar di pasar dapat digunakan secara bebas pula. Padahal tidak demikian. Obat yang diperoleh secara bebas dan dipakai sembarangan bahkan bisa menimbulkan efek yang merugikan kesehatan. Oleh karena itu harus selektif memilih obat dengan memperhatikan informasi terkait dengan obat yang akan dibeli.

2. Baca Label

Perhatikan label obat karena itu merupakan informasi penting yang tercantum pada kemasan obat yang menyertai obat tersebut. Pilihlah dosis dan cara penggunaan yang tepat untuk memilih obat yang aman dikonsumsi. Setiap obat yang beredar juga harus terdaftar POM sebab sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan keamanan dan khasiatnya.

Obat yang telah terdaftar POM akan memiliki nomor izin edar yang tercantum dalam kemasan. Penandaan simbol-simbol khusus dalam kemasan juga perlu diperhatikan. Lingkar hijau untuk obat bebas, sedangkan lingkar merah yang di dalamnya terdapat huruf K merupakan obat golongan keras yang hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter.

3. Sesuaikan Penyakit dan Dosis

Informasi obat pada kemasan yang perlu kita perhatikan adalah indikasi obat. Dari indikasi tersebut bisa diketahui kegunaan obat tersebut apakah sesuai dengan sakit yang diderita atau tidak. Juga untuk mengetahui kontradiksi atau siapa saja yang tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut.

4. Sebelum Kadaluarsa

Pastikan tanggal kadaluarsa obat tersebut belum terlewati. Tanggal Expire Date tersebut tercantum pada kemasan obat. Kondisi kemasan dan segel obat juga penting untuk diperhatikan. Pastikan warna kemasan, tulisan, dan segel tidak rusak.

Pengobatan untuk diri sendiri hendaklah memenuhi kriteria di atas. Konsultasikan kepada apoteker tentang mana saja obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Jika gejala penyakit tidak dapat hilang dalam beberapa hari sebaiknya hubungi dokter segera.

Wednesday, 12 November 2014

Asal Usul Alat Bantu Dengar

asal usul alat bantu dengar

Betapa nikmatnya mempunyai panca indera yang lengkap dan masih berfungsi normal. Sebaliknya betapa menderitanya orang yang mempunyai gangguan pada salah satu panca inderanya, misalnya pendengaran. Seorang yang mengalami gangguan pendengaran akan mengalami kesulitan dalam menerima informasi apapun.

Menyadari betapa pentingnya indera pendengaran dalam kehidupan manusia, para ahli sejak dulu berusaha untuk menciptakan alat bantu dengar. Alat bantu dengar berfungsi agar orang yang mengalami gangguan pada pendengarannya tetap bisa mendengar.

Asal Usul Alat Bantu Dengar


Alat bantu dengar sebenarnya sudah mulai dicetuskan sejak lama, bahkan sejak ratusan tahun sebelum masehi. Berikut perkembangan terciptanya alat bantu dengar dari masa ke masa.

Tahun 550 SM

Dalam buku  sastra klasik Yunani Illiad, seorang ilmuan bernama Homer berusaha menciptakan alat bantu dengar. Bentuknya seperti terompet satu sisi berlubang besar dan sisi lainnya berlubang kecil. Lubang kecil ditempelkan ke daun telinga. Alat ini awalnya dirancang untuk mendengar suara dari jarak jauh untuk kepentingan militer.

Tahun 300 SM

Dua abad kemudian alat ini sudah mengalami perubahan bentuk dan bahan pembuatnya. Saat itu orang-orang Yunani kuno menggunakan kulit kerang ke Phoenicia sebagai terompet telinga. Kulit kerang dikeringkan, lalu dicat sehingga lebih menarik dan bernilai jual.

Tahun 1624

Ilmuan asal Belgia, Jean Leurechon memodifikasi terompet telinga lebih simpel lagi. Bentuknya tidak berbeda jauh hanya saja lebih kecil dan praktis. Karyanya dipublikasikan melalui buku Recreations Mathematiques.

Tahun 1715

Seorang pengrajin asal Inggris kembali memodifikasinya dalam bentuk yang lebih kecil dan bisa dikaitkan dengan daun telinga.

Tahun 1898

Salah satu perusahaan asal Amerika Serikat membuat inovasi baru lebih modern. Dengan menggunakan mikropon karbon membuat pancaran suara lebih peka.

Tahun 1954

Perusahaan dari Eropa dan Amerika kembali memodifikasi alat bantu dengar tersebut semakin kecil sehingga dapat dipasang digagang kacamata.

Tahun 1955

Setahun kemudian para ahli mulai dengan pemakaian sistem digital dan bisa dipasang di dalam telinga.

Tahun 1970

Profesor Graeme Clark dan Rod Saunders mulai mempelopori teknik alat bantu dengar dengan implantasi. Alat ini mampu merangsang saraf penerima dengan getaran listrik beberapa menit. Bentuknya kecil bisa dimasukkan ke dalam telinga.

Tahun 1984

Alat bantu dengar dikembangkan lagi sebagai kuping bionik. Bentuknya kecil dimasukkan ke dalam telinga. Alat ini mampu menolong orang yang sama sekali tuli dan sulit mendengar dalam kondisi parah.

Sunday, 9 November 2014

Popok Bayi Picu Keterlambatan Jalan Bayi?


Bayi belum mampu mengontrol otot kandung kemihnya sehingga kebiasaan bayi rajin mengompol. Hal itu masih terbilang wajar. Masalah bayi mengompol sekarang sudah mudah ditangani, dengan memberikan popok bayi yang praktis. Ompol bayi tidak akan merembes membasahi kasur dan benda sekitar.

Penggunaan popok juga sangat menguntungkan para ibu, selain bisa menghemat cucian, popok juga memudahkan saat bayi diajak ke luar rumah. Ibu tidak lagi khawatir jika tiba-tiba anaknya mengompol. Meskipun keberadaan popok sangat membantu, tapi sebuah penelitian mengungkapkan bahwa popok dapat memperlambat kemampuan bayi untuk berjalan. Para psikolog di New York University melakukan penelitian pada 60 bayi yang baru belajar jalan atau mulai berjalan.

Ternyata popok tidak hanya timbulkan ruam pada kulit bayi, tapi juga membuat bayi lebih sulit belajar berjalan. Dari 60 bayi yang diteliti, separuhnya berusia 13 bulan yang baru saja belajar berjalan. Separuh lagi berusia 19 bulan yang sudah mulai bisa berjalan. Bayi-bayi tersebut diuji 3 kali, saat telanjang, mengenakan popok kain, dan mengenakan popok sekali pakai.

Ada 17 dari 30 bayi terjatuh yang mengenakan popok sekali pakai, 21 bayi yang jatuh ketika mengenakan popok kain lebih besar. Pada bayi usia 19 bulan pengaruh pemakaian popok masih ada hanya saja tidak terlalu menonjol. Ketika mengenakan popok, bayi cenderung mengambil langkah lebih lebar tapi pendek.

Whitney Close mengatakan bahwa popok membuat adanya gumpalan di antara kaki, berpotensi memperburuk keseimbangan dan posisi bayi. Jadi popok itu sendiri merupakan suatu gangguan biomekanis yang berlangsung saat jalan.

Meskipun belum dilakukan penelitian lebih lanjut, para peneliti yakin bahwa melepas popok akan mempercepat proses belajar berjalan bayi. Padahal pada kenyataannya para orangtua harus sedikit lebih bersabar ketika bayi mengompol :D

Saturday, 8 November 2014

Mengenal Penyakit Campak

Mengenal Penyakit Campak

Campak merupakan salah satu penyakit yang menular yang disebabkan oleh virus. Dalam bahasa latin campak disebut morbili, atau measles dalam bahasa inggris. Campak ditandai dengan demam tinggi hingga 40 derajat, lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan selaput ikat mata), bintik merah dikulit, mata merah, nyeri sendi, sakit kepala, kelelahan, diare, dan muntah.

Pasien yang terkena campak bisa menyebabkan masalah kesehatan lain seperti infeksi telinga, pneumonia (radang par-paru), ensefalitis (radang otak), dan gangguan trombosit. Campak biasanya menjangkiti anak-anak, dan dalam sejarah dikenal sebagai pembunuh terbesar.

Virus campak menyerang 50 juta orang setiap tahunnya dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Walaupun vaksin campak telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, penderita campak masih sangat besar.

Sejarah Penyakit Campak


Campak sebenarnya penyakit yang sudah ada sejak sebelum masehi. Wabah campak dalam sejarah telah memakan korban lebih dari 200 juta orang menyebabkan penyakit campak menjadi wabah paling mematikan kedua di dunia.

Menurut Rhazes, seorang dokter dan filsuf Persia pada abad 10 masehi, mengatakan bahwa campak adalah penyakit yang lebih ditakuti daripada cacar. Lalu pada tahun 1963, vaksin campak dan imunisasi campak ditemukan.

Sebelum ditemukannya vaksin campak, hampir lebih dari populasi terjangkiti campak saat usia 6 tahun, dan 90% menderita campak pada usia 15 tahun. Namun setelah ditemukannya vaksin campak, jumlah penderita campak berkurang drastis hingga 99%.

Penyakit Campak di Indonesia


Campak merupakan penyakit endemik yang banyak terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Hampir setiap anak yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak. Meskipun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.

Pada beberapa daerah yang cakupan imunisasi tinggi dan merata cenderung bergeser pada kelompok usia yang lebih tua (10-14 tahun). Pada tahun 1996 penyakit campak mengalami penurunan sebesar 80%. Saat ini, meskipun peralatan medis sudah canggih, penyakit campak masih saja terjadi pada beberapa anak.

Penyebab Penyakit Campak


Mengenal Penyakit Campak

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyebab campak adalah karena virus campak yang disebut paramiksovirus. Penularan virus ini terjadi dari ludah / lendir dari hidung, mulut, maupun tenggorokan. Masa inkubasi selama 10 - 14 hari sebelum gejala muncul. Cara mengatasi campak pada bayi dengan memberikan vaksinasi pada bayi yang baru lahir.